dewiwara srikandi adalah putri prabu drupada di cempalareja. waktu remaja putri ia berguru memanah pada raden arjuna. lantas ia di ambil istri oleh arjuna. asal mula srikandi berguru memanah pada arjuna. waktu pengantin arjuna dengan dewi wara sumbadra, srikandi datang melihat, ia lihat perilaku ke-2 pengantin itu, tertariklah srikandi pingin
Indonesia Dalam cerita Ramayana penculikan Dewi Sinta adalah awal dari - Jawa: Wonten ing cariyos Ramayana, penculikan Dewi Sinta minangka
wayangmahabharata wayang indonesia, cerita wayang mahabarata dalam bahasa jawa kanthi lakon, kumpulan cerita wayang, ini bedanya kisah cerita mahabharata versi india dan jawa, coretan anak lugu tokoh mahabarata, mengenal wayang mahabarata, kisah dewi sinta diculik rahwana ramayana mahabarata, ringkasan cerita mahabarata catatan maznoer
DewiSinta adalah putri Prabu Janaka raja negara Mantili atau Mitila MahabharataDewi Sinta diyakini sebagai titisan Bathari Sri Widowati istri Bathara Wisnu. Layanan terjemahan online bahasa indonesia ke bahasa jawa dan sebaliknya dengan unggah-unguh bahasa jawa. Dewi Sinta kudu-kudua uwal saka pancekele Rahwana.
Wektuketemu Rama, Barata nangis sinambi ngandhani bab matine Dasarata. Barata Banjur njaluk Rama bali menyang Ayodhya lan munggah tahta angganteni Dasarata. Nanging Rama ora gelem lan isih nglakokaké printah kang rama lan ora nyalahke ibune tiri, Kaikeyi sapisan maneh njaluk Barata dadi kekarepane kanggo munggah tahta.
Okelangsung saya berikut ini adalah Cerita Ramayana yang berjudul " Hilangnya Dewi Sinta Versi Bahasa Jawa ". Cerita ramayana Hilangnya dewi sinta Didalam pengasingan wonten wana dandaka, dewi sinta, rama lan laksmana gesang [sugeng] bingah. Ngantos ing kalanipun, setunggaling tiyang gadis elok ndugini [ngrawuhi] raden laksmana.
Yk8Y5QR. Ringkasan Cerita Kidang Kencana Halo gaes, pada kesempatan ini artikel yang sya buat tentang salahsatu cerita yang sering di gunakan oleh bapak ibuguru yang ada di sekolah untuk digunakan sebagai bahan pembelajaran. Tetapi saat pemblajaran itupun biasanya para siswa di suruh untuk membuat ringkasan dri cerita Ramayana. Sebenarnya cerita ramayana yang digunakan sebagai bahan pemblajaran di bagi menjadi 3 judul yang pertama cerita Ramayana Kidang kencana, yang kedua tentang cerita ramayana Anoman Duta, terus yang ketiga cerita Ramayana Peksi Jathayu na untuk cerita itu semua da di blog ini silahkan bisa di akses. Dan pada kesempatan ini saya akan memberikan ringkasan cerita Kidang Kencana dalam bahasa jawa ngoko di bawah ini. Cerita Kidang Kencana Nalika Rama Sinta lan lesmana ngumbara deweke nganti ana ing tengahing wana. Ana ing kono dewi Sinta ngerti Kidang Emas. Kidang kencana mlaku-mlaku ana ing daerah kuwi ngerti kidang kang wernane emas Dewi Sinta jaluk supaya Kidang mau di cekel. Amerga Rama iku tresna banget marang Dewi Sinta, Rama banjur nyekel Kidang kencana mau. Kidang kencana ngerti yen erep di cekel deneng Rama mula kidang kencana mlayu mlebu ana ing tengahing Alas. Rama banjur melu mlebu ana inng jero alas ana jero alas katon peteng dedet ananging kala-kala kidang kencana ketoh kumlebat. Rama banjur menthang gendhewa kidang kencana banjur di panah. Eloking kahanan bareng karo gumlundunge kidang mau ana suwara kang niru-suwarane Rama bengok-begok jaluk tulung banjur Rama sadar yan deweke lagi kapusan. Swara sambating Rama nganti krungu nganti papane Dewi sinta lan lesmana. Dewi Sinta ngira yen suwara kuwi mau suwarane Rama, banjur Lesmana ngelingake yen kuwi dudu suwarane Prabu Rama. Dewi sinta tetep teguh karo apa sing di antepi dadine Dewi sinta ngutus Lesmana supaya goleki Prabu Rama. Raden Lesman banjur lunga goleki Prabu Rama. Ana tengahing dalan Prabu Rama ketemu dening Raden Lesmana banjur kekalihe balik ana papane Dewi Sinta. Kaget atine Rama lan Lesmana ngerteni Dewi Sinta wis ora ana ing panggonan kuwi. Banjur Rama lan lesmana goleki Dewi sinta. Ana ing tengah dalan Rama lan Lesmana ketemu karo Peksi Jathayu. Peksi Jathayu banjur nyeritaake yen kang nyulik Dewi sinta yaiku Rahwanabanjur digawa ana Nagari Ngalengka. Jathayu uga cerita yen kang natoni Jatayu yaiku Rahwana sakwise Cerita kang kaya mangkono Peksi Jathayu mati. Rama lan Lesman nerusake angone goleki sinta ana ing dalan kepanggih dening Anoman kang sedya ngabdi deneng Prabu Rama.
Dewi Sinta adalah putri Prabu Janaka, raja negara Mantili atau Mitila Mahabharata. Dewi Sinta diyakini sebagai titisan Bathari Sri Widowati, istri Bathara Wisnu. Selain sangat cantik, Dewi Sinta merupakan putri yang sangat setia, jatmika selalu dengan sopan santun dan suci trilaksita ucapan, pikiran dan hatinya. Dewi Sinta menikah dengan Ramawijaya, putra Prabu Dasarata dengan Dewi Kusalya dari negara Ayodya, setelah Rama memenangkan sayembara mengangkat busur Dewa Siwa di negara Mantili. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra masing-masing bernama; Lawa dan Kusya. Dengan setia Dewi Sinta mengikuti suaminya, Ramawijaya menjalani pengasingan. Karena terpesona oleh keindahan Kijang Kencana penjelmaan Ditya Marica, Dewi Sinta akhirnya diculik oleh Prabu Dasamuka dan ditawan di taman Argasoka negara Alengka hampir 12 tahun lamanya. Ia akhirnya dapat dibebaskan oleh Ramawijaya, setelah berhasil membinasakan Prabu Dasamuka dan semua senapati perang Mahabharata, Dewi Sinta tidak lama tinggal di istana Ayodya sebagai permaisuri Prabu Rama. Karena kecurigaan Prabu Rama terhadap kesucian Dewi Sinta walau telah dibuktikan dengan hukum bakar di Alengka, Dewi Sinta kemudian diasingkan dari istana Ayodya, dan hidup di pertapaan Resi Walmiki. Di tempat itulah Dewi Sinta melahirkan kedua putra kembarnya. Lawa dan Kusya. Akhir riwayatnya diceritakan, Dewi Sinta mati ditelan bumi saat akan boyong kembali ke istana Ayodya. Untuk membaca kisah lengkap Ramayana silakan Klik Disini.
– Dewi Shinta merupakan tokoh pewayangan Ramayanan sebagai tokoh protagonis. Di mana adalah seorang istri Rama dan merupakan inkarnasi dari Dewi Laksmi yang merupakan dewi keberuntungan. Shinta juga merupakan seorang puteri dari seorang bidadari yang bernama Batari Tari. Kisah singkat Ramayana sebenernya lebih menceritakan tentang penculikan Shinta oleh rahwana yang merupakan Raja dari kerajaan Alengka. Di mana Rahwana ingin memperistri Dewi Shinta. Penculikan inilah yang menyebabkan kerajaan Alengka hancur karena serangan Rama yang dibantu oleh bangsa Wanara dari kerajaan Kiskenda. Baca Juga Kisah Ramayana – Rahwana Menculik Dewi Sinta Dewi Shinta di Usia Remaja Saat Shinta beranjak remaja ia tumbuh menjadi sosok puteri yang cantik jelita. Akhirnya dibuatkanlah sayembara, barang siapa yang dapat menarik busur raksasa yang merupakan pusaka negara Mantili, dia berhak memperistri Shinta. Dewi Shinta menurut Umat Hindu melambangkan kesucian dan keteguhan cinta. Namun, dalam bahasa Sansekerta, Shinta berarti kerut’. Di mana menggambarkan tentang aroma kesuburan. Hingga ia juga mendapat julukan sebagai Dewi Bumi, di mana bisa memberkati ladang dengan hasil panen yang berkualitas.
-Dewi Sinta- Asal Usul Dewi Sinta Dewi Sinta adalah salah satu tokoh dalam Ramayana dan menjadi karakter wanita utama dalam Ramayana. Dewi Sinta merupakan puteri dari seorang bidadari yang bernama Btari Tari atau Kanun isteri dari Rahwana. Konon, Shinta adalah titisan dari Btari Widawati istri dari Dewa Wisnu. Ketika Btari Tari mengandung Sinta, bayi yang ada dalam kandungannya sudah diramalkan oleh para ahli nujum negara Alengka, bahwa anak di dalam kandungan Dewi Tari tersebut adalah titisan Dewi Widowati yang diincar oleh Rahwana untuk dijadikan isteri. Karena dipercaya bahwa barangsiapa memperistri Dewi Widowati atau titisannya akan mendapat kemuliaan lahir dan batin. Maka jika ramalan para nujum itu benar, maka dikhawatirkan bahwa anak Dewi Tari akan diperistri ole ayahnya sendiri. Apa yang diramalkan para nujum menjadi kenyataan, anak Dewi Tari lahir perempuan, dan merupakan titisan Dewi Widowati. Anak tersebut memiliki wajah yang cantik, maka dari itu Gunawan Wibisana, dimana dia adalah adik dari Dewi Tari memohon ijin kepada Dewi Tari untuk membuang bayi perempuan tersebut dan menggantinya dengan bayi laki-laki. Dewi Tari menyetujui langkah Gunawan Wibisana demi keselamatan bayinya dan tidak diperistri oleh suaminya sendiri. Bayi Sinta ditempatkan disebuah ketupat Sinta, lalu ketupat Sinta tersebut dilabuhkan ke dalam sungai oleh Gunawan Wibisana. Agar tidak dicurigai oleh Rahwana, kemudian Gunawan Wibisana membuat mega mendung dan meminta kepada Dewa agar diberikan bayi laki-laki, permohonan tersebut dikabulkan dan berubahlah mega mendung tadi menjadi seorang bayi laki-laki dan diberi nama Megananda atau Indrajit. Ketupat Siinta terbawa aliran sungai dan masuk ke persawahan bumi Mantili. Pada waktu itu Prabu Janaka adalah raja Mantili, sedang memimpin upacara ritual para petani yang diselenggarakan pada setiap awal musim tanam. Beliau terkejut, ada sebuah ketupat yang bersinar dan dilihatlah ternyata ada seorang bayi wanita yang sangat cantik. Bayi tersebut kemudian diangkat menjadi anak Prabu Janaka dan diberi nama Sinta sesuai dengan nama ketupatnya. Suatu hari, ketika Sinta beranjak dewasa, Prabu Janaka membuat sayembara, siapa saja yang dapat menarik busur raksasa pusaka negara Mantili, akan menjadi jodoh Sinta. Ramawijaya yang tengah berguru pada Brahmana Yogiswara, disarankan untuk mengikuti sayembara. Jelas saja, Rama sukses, lantaran ia merupakan titisan Wisnu . Pertunangan serta perkawinan sekalian disemarakkan dengan pesta pora, baik dinegeri Mantili ataupun di Ayodya. Setelah dewasa Sinta hidup dalam pembuangan di hutan Dandaka mendampingi Rama suaminya dan Laksmana adik Rama. Di hutan Dandaka ia diculik oleh Dasamuka yang adalah ayah Sinta yang sesungguhnya. Namun dalam hal ini Sinta tidak tahu bahwa yang menculik adalah ayahnya. Demikian juga Dasamuka tidak tahu bahwa yang diculik adalah anak kandungnya. Rahasia ini disimpan rapat-rapat oleh Wibisana dan Dewi Tari. Kisah penculikan ini berawal saat Sinta melihat seekor kijang lucu dan bercahaya laksana emas. Ia memohon kepada Rama suaminya untuk menangkap kidang tersebut. Namun ternyata tidak mudah. Seekor kidang yang kelihatan jinak tersebut selalu gagal ditangkap Rama, hingga tidak disadarinya Rama semakin jauh meninggalkan Sinta dan Laksmana. Laksamana kemudian meninggalkan Sinta, dan Sinta pun bertemu dengan brahmana tua yang kehausan dan kelaparan yang ternyata itu adalah jelmaan Dasamuka. Dasamuka lalu menculik Sinta. Mengetahui akan hal itu, karena beranggapan bahwa Dewi Sinta telah dinodai oleh Rahwana, untuk menguji kesucian Dewi Sinta, sang Rama pun memerintahkan sang istri Dewi Sinta untuk masuk dalam api, dimana jika keberadaan dewi sinta masih suci maka ia akan selamat dan jika tidak maka Dewi Sinta akan binasa. Sebagai seorang yang taat dan setia kepada suaminya, maka Dewi sinta pun menuruti perintah dari sang Rama tersebut dan terbukti Dewi Sinta tidak mengalami cedera sedikitpun. Maka dengan peristiwa tersebut sang Rama kembali menerima keberadaan Dewi Sinta dan mereka benar benar saling mncintai satu sama lainnya. Watak tokoh Dewi Sinta Watak tokoh Dewi Sinta adalah seorang yang tabah, kuat, berani, setia, dan taat pada suaminya. Penggambaran watak ini terletak pada sikap Dewi Sinta yang kuat dalam menghadapi ujian ketika masih bayi yang dilarung di sungai hingga setelah pernikahannya dengan Rama, dia harus mengalami ujian kembali yaitu hidup dalam pembuangan di hutan Dandaka ketika sedang mendampingi suainya dan Laksmana. Tidak hanya itu, Dewi Sinta juga terbukti setia dan taat pada suaminya ketika dia dituduh oleh suaminya sendiri akan tidak kesucian dirinya, dia berani membuktikan dirinya masih suci adalah dengan masuk ke dalam api. Jika keberadaan dewi sinta masih suci maka ia akan selamat dan jika tidak maka Dewi Sinta akan binasa dan terbukti Dewi Sinta tidak mengalami cedera sedikitpun. Ciri Khas Dewi Sinta Dewi Sinta menurut saya adalah salah satu tokoh wanita dalam Ramayana yang memiliki ciri khas tokoh utama wanita yang tabah, kuat, berani, setia, dan taat pada suaminya. Ciri khas tersebut terletak pada keberanian Dewi Sinta untuk tetap mengabdi kepada suaminya dan berani untuk membuktikan kepada suaminya tentang kesucian dirinya dengan masuk ke dalam api. Dewi Sinta juga seorang yang tabah dimana dia dapat mengatasi ujian dalam hidupnya dengan tabah dan penuh kepasrahan. Kesamaan watak dengan tokoh Dewi Sinta adalah sosok wanita yang tabah/sabar, kuat, berani, setia, dan taat pada suaminya. Saya adalah orang yang tidak suka untuk memperibet urusan dan menjadikannya itu adalah sebuah pelajaran agar saya dapat mengambil hikmah dari sebuah pembelajaran tersebut. Saya juga memiliki sifat yang sabar dan kuat, karena menurut saya ketika saya sedang menerima suatu cobaan saya mencoba untuk menerima dengan lapang dada dan kuat untuk menghadapinya. Saya juga memiliki kesamaan sifat dengan Dewi Sinta yaitu memiliki pribadi yang setia kepada pasangannya. Sumber foto dewi shinta Published by cutiepieholiyay Hallo! Aku Audrey Jihan Salsa Faradilla. View all posts by cutiepieholiyay Published March 2, 2018 Post navigation
Pada Kesempatan Kali ini saya ingin membagikan sebuah cerita dari Kisah Ramayana tentang Hilangnya Dwi Sinta. Pada Cerita ini saya akan memberikan sebuah Cerita yang menggunakan Bahasa Jawa. Kenapa saya menggunakan Bahasa Jawa Karena Banyak anak anak sekolah yang mencari Cerita Mengenai Ramayana menggunakan bahasa jawa. Jadi saya memiliki ide untuk membantu para anak anak sekolah yang ingin mengetahi kirah Ramayana ini Menggunakan Bahasa Jawa Sekaligus Agar mereka dapat belajar dari kisah ini dan memahami setiap kosakata Bahasa Jawa. Oke langsung saya berikut ini adalah Cerita Ramayana yang berjudul "Hilangnya Dewi Sinta Versi Bahasa Jawa". Cerita ramayana Hilangnya dewi sinta Didalam pengasingan wonten wana dandaka, dewi sinta, rama lan laksmana gesang[sugeng] bingah. Ngantos ing kalanipun, setunggaling tiyang gadis elok ndugini[ngrawuhi] raden laksmana. Gadis elok puniku naminipun[asmanipun] dewi sarpakenaka. Piyambakipun[panjenenganipun] ketingal[kepriksan] dhawah tresna ing laksamana. Piyambakipun[panjenenganipun] dugi[rawuh] menggoda laksmana. Nanging laksmana mboten tertarik kalih[kaliyan] gadis puniku. Gadis elok puniku tansah mencolak colek lan memeluk badan[salira] laksmana. Laksmana rumaos mboten nyaman, laksmana dados risih. Mila dipencetlah irung[grana] sarpakenaka keras-keras. Mboten disangka piyambakipun[panjenenganipun] ebah dados setunggaling tiyang raseksi. Laksmana kaget kala[nalika] estri[putri] elok ingkang memelukipun, saestunipun setunggaling tiyang reseksi. Sarpakenaka srengen[duka] pisan, piyambakipun[panjenenganipun] enggal ngulemi[nimbali] karadusana, semahipun[garwanipun]. Karadusana dados srengen[duka] sasampunipun angsal[keparing] laporan menawi semahipun[garwanipun] diperkosa dening laksmana. Langsung mawon karadusana nyerang laksmana. Laksmana enggal nginggahaken dedamel jemparing surawijaya. Jemparing surawijaya tumuju sasaran, lan matilah karadusana. Sepeninggal karadusana, sarpakenaka kesah[tindak] manggihi kakangipun[rakanipun], prabu dasamuka, raja alengka. Prabu dasamuka mboten tertarik kalih[kaliyan] criyos sarpakenaka, malah tertarik kalih[kaliyan] kewontenan tigang tiyang ingkang manggen wonten wana dandaka. Kangge[kagem] puniku prabu dasamuka ngejak setunggaling tiyang kepercayaanipun ingkang naminipun[asmanipun] kala marica. Setunggaling tiyang rasaksa , senajan tingkatanipun setunggaling tiyang prajurit nanging sakti, tansah dados andelan prabu dasamuka. Pungkasanipun prabu dasamuka sumerep kaping tiga tiyang puniku dalah rama, laksmana lan dewi sinta. Istimewanipun malih, setunggaling tiyang estri[putri] elok puniku kasunyatanipun titisan widawati. Prabu dasamuka bersenang sanget manah[penggalih]. Pungkasanipun prabu dasamuka ngengken[ndhawuhaken] kala marica ebah dados seekor kijang berbulu jene. Saleresipun prabu dasamuka saweg ngrencanakaken sesuatu ing dewi sinta. Prabu dasamuka sareng lare[putra] buahipun, kala marica wiwit kala-wau mengamati kawontenan dewi sinta. Kijang berbulu jene penjelmaan kala marica , gadhah[kagungan] tugas nebihaken rama saking dewi sinta. Nanging rama lan sinta mboten sadar ajeng[badhe] wontenipun bahaya ngancem. Prabu dasamuka ajeng[badhe] nyulik dewi sinta, amargi titisan dewi widowati. Dewi sinta nedha[nyuwun] rama menangkap kijang puniku. Rama enggal nyelaki kijang puniku, lan kijang puniku plajeng. Kados puniku berulang ulang kedados milanipun rama saya lami[dangu] saya nebihi papan dewi sinta. Sawentawis rama mboten ketingal[kepriksan] malih saking pandangan dewi sinta. Dewi sinta rumaos cemas. Sawentawis puniku rama teras{lajeng} numuti[ndereki] kijang jene ingkang ketingal[kepriksan] jinak, berkali kali ajeng[badhe] dipuncepeng kijang puniku plajeng. Rama dados kesal dipundamelipun, pungkasanipun rama nglepasaken panahipun lan ngenani kijang jene, kijang jene ebah dados rasaksa kala marica. Kala marica berteriak menirukan suwanten rama nedha[nyuwun] tolong. Dewi sinta mireng[midhanget] salah setunggaling tiyang berteriak nedha[nyuwun] tolong. Dewi sinta ngengken[ndhawuhi] laksmana menyusul kakangipun[rakanipun] ingkang saweg menangkap kijang. Laksmana mboten purun[kersa] nilaraken dewi sinta setunggaling tiyang diri, amargi sami pesen rama, laksmana mboten angsal[kepareng] nilaraken dewi sinta. Dados laksmana mboten purun[kersa] nilaraken dewi sinta. Dewi sinta srengen[duka], dewi sinta mastani laksmana ajeng[badhe] memperkosa piyambakipun[panjenenganipun]. Laksmana kaget mireng[midhanget] puniku, pungkasanipun laksmana, nedha[nyuwun] dewa kangge[kagem] mireng[midhanget] sumpahipun, menawi piyambakipun[panjenenganipun] mboten ajeng[badhe] emah-emah kangge[kagem] saumur gesangipun[sugengipun]. Pungkasanipun laksmana medalaken[miyosaken] pusakanipun lan menggaris lingkaran wonten siti saubengan dewi sinta supados wilujeng[sugeng] lan mboten ajeng[badhe] terjangkau dening sintena. Laksmana gadhah[kagungan] pesen supados dewi sinta sampun nyelaki garis lingkar napamalih menawi ngantos medal[miyos] saking lingkaran ajeng[badhe] celaka. Garis lingkaran puniku sampun dipunsukani[dipunparingi] rajah, milanipun tiyang ingkang ajeng[badhe] tumindak mboten sae mboten ajeng[badhe] saged mlebet dhateng lebet garis lingkaran. Sepeninggal rama lan laksmana dugia[rawuha] setunggaling tiyang peminta-minta ingkang sampun sepuh[yuswa] pisan, badanipun[saliranipun] sampun renta, hampir-hampir mboten saged mlampah[tindak]. Piyambakipun[panjenenganipun] nedha[nyuwun] segelas toya. Dewi sinta mendhet[mundhut] segelas toya lan nyelaki peminta-minta puniku, nanging kados puniku tangan[asta] ingkang nyepeng[ngasta] gelas medal[miyos] saking garis lingkaran, wongtua-tua puniku langsung menangkap dewi sinta lan mbekta[ngasta] mabur dhateng angkasa. Kasunyatanipun piyambakipun[panjenenganipun] inggih punika prabu dasamuka raja alengka. Ditengah perjalanan diangkasa tumuju alengka, prabu dasamuka diburu dening seekor paksi garuda. Mila terjadilah perkelahian antawis prabu dasamuka ingkang saweg memanggul dewi sinta nglawan paksi garuda, paksi garuda puniku naminipun[asmanipun] jatayu, inggih punika rencang prabu dasarata lan paksi jatayu berniat mangsulaken[ngonduraken] dewi sinta, dhateng ayodya. Jatayu berhasil ngrebat dewi sinta, lan mbektanipun[ngastanipun] mabur tumuju ayodya. Nanging paksi jatayu angsal[keparing] disusul dening prabu dasamuka. Prabu dasamuka kalih[kaliyan] pedang mantana membacok jatayu ngantos luka jahat. Jatayu lan dewi sinta dhawah kebawah. Prabu dasamuka enggal memburu dewi sinta lan menangkapipun, lajeng mbektanipun[ngastanipun] dhateng alengka diraja. Dewi sinta nggih dipunbekta[dipunasta] prabu dasamuka dhateng alengka. Dene badan[salira] jatayu teras{lajeng} ngluncur kebawah, lan dialah mangkenipun ingkang ajeng[badhe] dados saksi kangge[kagem] rama lan laksmana, ngenani kewontenan dewi sinta saniki. Rama lan laksmana malih ketempat dewi sinta saderengipun, nanging piyambakipun sedaya namung angsal[keparingan] segelas toya ingkang terguling diluar pagar lingkaran laksmana. Rama lan laksmana madosi dewi sinta wonten sekitar papan puniku. Nanging mboten dipunkepanggihaken. Rama lan laksmana pungkasanipun angsal[keparingan] seekor paksi garuda ingkang kebak kalih[kaliyan] rah. Rama curiga paksi puniku sampun nedha[dhahar] dewi sinta. Ndadak paksi garuda jatayu, wicanten[ngendika], menawi kala-wau nembe berkelahi kalih[kaliyan] rahwana. Jatayu nyriyosaken menawi piyambakipun[panjenenganipun] usaha milujengaken[nyugengaken] dewi sinta ingkang diculik dening rahwana. Sedetik lajeng jatayu pejah[seda] amargi terluka jahat. . ~SELESAI~ Terimakasih Sudah Berkunjung Ke Situs Ini. Jangan Lupa Tinggalkan Like atau Komen dibawah.
cerita dewi sinta dalam bahasa jawa